Versi Lengkapnya Kalian tinggal Komen aja ya guys .. nanti dikirim by email
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Hidroponik merupakan tren dalam budidaya tanaman, karena memberikan kesan baru untuk kegiatan budidaya
tanaman khususnya aneka jenis sayur yang sebelumnya terkesan ribet dan kotor.
Metode hidroponik menggunakan larutan
nutrisi mineral dalam air tanpa menggunakan tanah untuk proses menumbuhkan
tanaman. Teknik hidroponik dibagi menjadi enam jenis, yaitu Wick, Deep Water Culture (DWC), EBB dan Flow (Flood & Drain), Drip (recovery atau nonrecovery), Nutrient Film Technique (NFT) dan Aeroponik. Ada ratusan variasi pada sistem hidroponik, tetapi semua
metode hidroponik adalah variasi dan kombinasi dari enam jenis dasar (Domingues
dkk, 2012).
Budidaya tanaman hidroponik tomat ceri (Lycopersicon esculentum var. cerasiforme) merupakan peluang usaha
yang saat ini masih terbuka cukup lebar karena tergolong baru. Tomat ceri
menjadi pilihan karena rasanya yang manis, crispy,
berwarna merah dan ukurannya mini. Tanaman tomat ceri bisa dipanen 2-3 bulan
dan pemeliharaannya ringan dan mudah. Hasil keuntungan bisa mencapai 50-150%
dari biaya produksi yang dikeluarkan dalam setiap musim (Gunawan, 2009).
Hidroponik dengan metode wick atau sistem sumbu
adalah salah satu cara yang paling sederhana karena hanya memanfaatkan
prinsip kapilaritas air. Metode penanaman ini dengan
memanfaatkan tangki berukuran besar dengan volume
larutan zat hara yang banyak, sehingga dapat menekan fluktuasi konsentrasi
larut pada zat hara. Pada larutan hara sistem ini tidak melakukan sirkulasi,
akibatnya dapat mengurangi pada ketergantungan terhadap tersedianya energi
listrik. Pada metode wick kesederhanaan
inilah yang menjadikan teknologi ini mudah digunakan oleh petani.
Unsur utama tanaman hidroponik dengan
bantuan air, maka selain faktor suhu dan kelembaban, ketergantungan terhadap
larutan nutrisi menjadi salah satu faktor penentu yang paling penting dalam
menentukan hasil dan kualitas tanaman (Toshiki, 2012). Sedangkan pada tanaman
tomat membutuhkan unsur hara makro dan mikro untuk memenuhi kebutuhan kesuburan
tanaman. Dimana unsur tersebut sudah tersedia pada pupuk AB Mix yang berupa
cairan pekat antara pupuk A dan pupuk B. Untuk menjadikannya larutan nutrisi
dengan cara mencampurkan pupuk AB Mix dan air dengan takaran 3 ml pupuk A dan 3
ml pupuk B untuk 1 liter air. (Umar, Akhmadi,
& Sanyoto, 2016)
Ada dua variabel utama yang harus dipertimbangkan ketika membuat
larutan nutrisi, yaitu konduktivitas listrik / Electrical Conductivity (EC) dan potensi ion hidrogen (pH).
Perubahan tingkat pH akan berpengaruh terhadap aktivitas fotosintesis tanaman,
karena CO2 mudah larut dalam air dan menurunkan pH. Karena nilai pH dapat
memberikan pengaruh terhadap aktivitas fotosintesis tanaman, tingkat pH dalam
larutan air harus dikontrol untuk menghindari tanaman akan rusak. (Saaid dkk,
2015)
Konduktivitas listrik (EC) larutan hara di hidroponik dapat mewakili
jumlah total garam dalam larutan nutrisi yang juga merupakan indikator jumlah
ion untuk tanaman. Nilai EC yang tinggi menghambat serapan hara dengan
meningkatkan tekanan osmotik,
sedangkan nilai EC yang rendah dapat mempengaruhi kesehatan tanaman (Ibrahim
dkk, 2015). Pada tanaman
tomat membutuhkan pH larutan yang direkomendasikan
adalah antara 5,5 sampai 6,5. Sedangkan larutan nutrisi untuk proses penanaman hidroponik tomat ceri
membutuhkan nilai EC yang berbeda - beda pada setiap fase. Ada fase pertumbuhan sebesar 1500 µS/cm, fase pembungaan 3000 µS/cm, dan fase pembuhanan 7000 µS/cm. (Gozali,
2016)
Pada penelitian sebelumnya sudah dikembangkan teknologi hidroponik
system wick untuk tanaman tomat ceri. Namun, kondisi yang diatur adalah nilai
suhu dan kelembaban ruang (Ichsan, 2017). Di lain pihak, pengukuran pH
dan EC larutan nutrisi untuk tanaman hidroponik masih dilakukan secara manual
dengan takaran yang dibuat oleh penggunanya. Pada Tugas Akhir ini akan dibuat
sebuah sistem otomatis pencampuran nutrisi untuk hidroponik
metode wick dengan menggunakan sensor pH dan Sensor EC. Hasil sensor EC akan diolah untuk proses
pencampuran Air, pupuk A dan pupuk B untuk dijadikan larutan nutrisi. Sedangkan
hasil dari sensor pH difungsikan untuk proses pembuangan larutan nutrisi pada
hidroponik. Sensor pH dan EC sangat dibutuhkan untuk menjaga larutan nutrisi
hidroponik agar sesuai kebutuhan tanaman.
1.2
Rumusan Masalah
Dari latar
belakang yang telah diuraikan tersebut, maka didapatkan beberapa rumusan
masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana merancang mekanik untuk tandon pupuk dan tandon air pada hidroponik
sistem wick?
2. Bagaimana kalibrasi nilai sensor pH dan EC yang sesuai dengan nilai buffer?
3. Bagaimana dapat mengontrol nilai pH untuk pengantian larutan nutrisi tomat ceri pada hidroponik sistem wick ?
4. Bagaimana dapat mengontrol nilai EC pada larutan nutrisi yang sesuai dengan tahapan
pertumbuhan tomat ceri pada hidroponik sistem wick ?
5. Bagaimana menciptakan data yang real time untuk pengontrolan pada tandon
larutan nutrisi hidroponik tomat ceri?
1.3
Batasan Masalah
Pada Dalam perancangan dan pembuatan
terdapat beberapa Batasan masalah, antara lain :
1.
Jenis
tanaman yang diujicobakan adalah tomat ceri.
2.
Tidak
membahas pengaruh sensor terhadap rendaman air dalam waktu yang lama.
3.
Sistem kontrol tidak memberikan
informasi balik mengenai kondisi tanaman baik / buruk.
4.
Variabel
yang dikontrol yaitu pH dan EC.
5.
Tidak
membahas masalah suhu dan kelembaban untuk tanaman.
6.
Tidak
membahas jika kondisi tandon air dan tandon pupuk kosong.
1.4
Tujuan
Adapun tujuan
dari pembuatan otomasi sistem ini adalah sebagai berikut:
1.
Merancang mekanik tandon nutrisi
hidroponik pada sistem wick.
2. Dapat menghasilkan sistem pencampuran larutan nutrisi hidroponik secara
otomatis.
3. Sensor dapat mengontrol nilai pH dan EC sesuai dengan tanaman tomat
ceri.
1.5
Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini
dijelaskan tentang latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan
dari penelitian ini, dan sistematika penulisan Tugas Akhir.
BAB II LANDASAN TEORI
Pada
bab ini membahas teori penunjang secara singkat sebagai acuan pada penelitian Tugas
Akhir.
BAB III METODE PENELITIAN
Pada
bab ini dibahas tentang tahapan dalam pembuatan rancang sistem otomasi dengan
menggabungkan hardware dan software dengan terdapat rule-rule yang telah diterapkan dan akan aktif atau mati sesuai dengan kondisi
yang telah ditentukan.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab ini berisi
tentang pengujian sistem otomasi yang meliputi pengujian sensor pH dan EC. Dengan
hasil pengujian dalam tiga fase tanaman tomat ceri dan sesuai keadaan waktu dan
nilai setpoit yang telah ditentukan.
BAB V PENUTUP
Pada bab ini berisi
tentang kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan serta saran sebagai
pengembangan penelitian di waktu yang akan datang.
BAB II
LANDASAN TEORI
Teori – teori
yang digunakan dalam perancangan perangkat keras dan perangkat lunak adalah
studi dari keputusan berupa data - data literatur dari masing - masing
komponen, informasi dari internet serta konsep - konsep teori buku penunjang,
antara lain :
2.1
Hidroponik
Hidroponik atau istilah asingnya hydroponics, adalah istilah yang
digunakan untuk menjelaskan cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai
tempat menanam tanaman. Hidroponik berasal dari bahasa Latin yang terdiri dari
kata hydro yang berarti air dan kata ponos yang berarti kerja. Jadi definisi
hidroponik adalah pengerjaan atau pengelolaan air yang digunakan sebagai media
tumbuh tanaman dan tempat akar tanaman mengambil unsur hara yang diperlukan.
Umumnya media tanam yang digunakan bersifat poros, seperti pasir, arang sekam,
batu apung, kerikil, rockwool.
(Lingga, 2015)
Teknik Hidroponik Sistem
Sumbu (Wick System)
Wick System adalah sistem hidroponik paling sederhana. Pada prinsipnya,
sistem sumbu ini hanya membutuhkan sumbu yang dapat menghubungkan antara
larutan nutrisi pada bak penampung dengan media tanam. Sistem ini adalah sistem
yang pasif yang berarti tidak ada bagian yang bergerak. Larutan nutrisi ditarik
ke media tanam dari bak/tangki penampung melalui sumbu yang terbuat dari kain flanel. Air dan nutrisi akan dapat
mencapai akar tanaman dengan memanfaatkan daya kapilaritas pada sumbu.
2.2
Tomat Ceri (Lycopersicon Esculentum Var. Cerasiforme)
Tomat merupakan
tanaman yang berkerabat dengan kentang, terong, dan cabai dalam family Solanaceae. Tomat terdiri
dari lebih 400 varietas yang salah satunya adalah tomat ceri (Lycopersicon esculentum var.
cerasiforme).
Tomat ceri diperkirakan mulai terkenal pada tahun 1800-an dan berasal dari Peru
dan Chilli bagian utara. Tomat ceri tumbuh paling baik pada temperatur 17
- 28
. Kelembaban
relatif yang diperlukan untuk pertumbuhan yaitu 80%
(Wiryanta, 2002). Bentuk buah tomat
ceri ada yang bulat sempurna dan ada pula yang lonjong. Berat buah umumnya
berkisar 10 - 20 gram. Tomat ceri disukai banyak konsumen karena dengan rasanya
yang manis serta kandungan tomat ceri yang kaya vitamin C, vitamin A dan
antioksidan serta rendah kalori, tomat ceri bisa dijadikan cemilan atau diolah
sebagai campuran salad.
2.3
Nutrisi AB Mix
Nutrisi AB Mix
Merupakan larutan nutrisi yang sangat berpengaruh untuk tanaman hidroponik yang
dapat digunakan sebagai suplai hara, baik makro maupun mikro untuk mendukung
pertumbuhan tanaman yang optimum. Nutrisi hidroponik tersebut terdiri dari dari
dua larutan, yaitu A Mix yang mengandung
unsur hara makro dan B Mix yang mengandung unsur hara mikro. (Umar, Akhmadi, & Sanyoto, 2016)
|
No
|
Unsur
|
Fungsi
|
|
Nutrisi A
|
||
|
1
|
Nitrogen (N)
|
Membentuk DNA
dan RNA
|
|
2
|
Fosfat (P)
|
Merangsang
pertumbuhan akar tanaman
|
|
3
|
Kalium (K)
|
Sintesa protein
|
|
4
|
Kalsium (Ca)
|
Membentuk
dinding sel (tahan penyakit)
|
|
5
|
Sulfur (S)
|
Penyusun asam
amino
|
|
6
|
Magnesium (Mg)
|
Inti klorofil
|
|
No
|
Unsur
|
Fungsi
|
|
Nutrisi B
|
||
|
7
|
Molibdenum (Mo)
|
Pembelahan dan
pembentukan sel
|
|
8
|
Seng (Zn)
|
Katalisator
dalam pembentukan dan pembelahan sel
|
|
9
|
Boron (Bo)
|
Membentuk
selulosa
|
|
10
|
Mangan (Mn)
|
Membentuk
energi
|
|
11
|
Tembaga (Cu)
|
Stabilisator
klorofil
|
|
12
|
Khlor (Cl)
|
Membentuk fisik
tanaman
|
|
13
|
Besi (Fe)
|
Proses pembentukan klorofil
|
Membuat Pekatan Nutrisi AB
Mix
Nutrisi
hidroponik atau AB Mix ada yang berbentuk cair dalam kemasan botol 500 ml dan
ada yang berbentuk padat (serbuk). Pada dasarnya nutrisi yang berbentuk cair
itu berasal dari serbuk yang sudah di larutkan sehingga pembeli tidak perlu
susah membuat larutan AB Mix, karena larutan ini
terdiri dari nutrisi A dan nutrisi B yang dikemas terpisah. Sebenarnya
pembuatan nutrisi AB Mix serbuk ke cair cukup mudah. (Umar, Akhmadi, & Sanyoto, 2016)
1.
Menyiapkan nutrisi hidroponik AB
Mix serbuk dalam kemasan 250gram.
2.
Menyiapkan juga 2 botol 500 ml dan
dikasih label A dan B supaya kedua pupuk tidak tertukar.
3.
Mengisikan air ke dalam botol A
dan B sebanyak 400 ml, lalu menuangkan serbuk A Mix ke botol A dan B Mix ke
botol B.
4.
Menutup kedua botol yang sudah
diberi air dan serbuk hingga rapat, kemudian mengkocok kedua botol tersebut dan
pastikan nutrisi telah benar – benar larut dengan air.
5.
Tambahkan air bersih dengan
ketinggian hingga leher botol, lalu mengkocok
perlahan agar larutan tercampur sempurna.
2.4
Pembuatan Nutrisi AB Mix Untuk Hidroponik
Nutrisi
AB Mix yang siap digunakan pada sistem hidroponik yaitu sudah berbentuk cair
dalam kemasan terpisah antara A dan B. (Umar,
Akhmadi, & Sanyoto, 2016) dan untuk penerapannya cukup menyesuaikan
dengan kebutuhan nutrisi setiap tanaman hidroponik karena nilainya berbeda –
beda, pada tomat ceri sebesar 1400 – 3500 ppm. Proses membuat larutan nutrisi
untuk hidroponik adalah sebagia berikut :
1.
Menyiapkan wadah penampung nutrisi
sesuai jenis sistem hidroponik yang dibuat.
2.
Membuat larutan awal dengan
perbandingan 1:3:3, yaitu campurkan 1 liter air yang sudah dituangkan ke dalam
wadah penampung nutrisi pada sistem dengan 3 ml larutan nutrisi A dan 3 ml
larutan nutrisi B. Dengan komposisi tersebut, maka didapatkan larutan dengan
kepekatan 500 ppm.
3.
Menaikkan ppm larutan nutrisi
dengan cara menambahkan 1 ml larutan nutrisi A dan 1 ml marutan nutrisi B.
Penambahan larutan nutrisi ini akan menaikkan kepekatan sebesar 130 ppm.
2.5
Pengaruh pH Terhadap Tanaman Hidroponik
Potensi ion Hidrogen (pH)
sangat berpengaruh terhadap larutan nutrisi tanaman yang ditanam memakai system
hidroponik. Jika nilai pH terlau tinggi hal ini menimbulkan pengendapan unsur - unsur hara mikro
tersebut. Salah satu unsur hara mikro yang tidak dapat diserap secara optimal
oleh tanaman adalah Khlorin (Cl). Unsur hara ini beperan sebagai aktivator enzim selama produksi oksigen
dari air, hal tersebut menyebabkan pertumbuhan akar tanaman menjadi kurang
optimal.(Izzati, 2006)
Apabila nilai pH terlalu rendah, daya larut unsur tersebut
akan menurun sehingga daya serap tanaman terhadap unsur tertentu kemungkinan
akan berkurang. pH berpengaruh terhadap ketersediaan unsur hara
dalam tanah, timbulnya gejala defiensi hara terhadap tanaman yang diakibatkan
konsentrasi larutan nutrisi. Sedangkan untuk nilai pH 7 dianggap netral hal ini
dikarenakan muatan listrik kation H+ seimbang dengan muatan listrik anion OH- .
Kation adalah ion-ion yang bermuatan positif sedangkan anion adalah ion-ion
yang bermuatan negatif (Aida, 2015). pH larutan yang direkomendasikan untuk
tanaman tomat pada kultur hidroponik adalah antara 5,5 sampai 6,5. Kandungan
larutan nutrisi sangat mempengaruhi perubahan nilai pH pada sistem hidroponik. (Kusuma, Mulyono, & Sukriyanti, 2015)
2.6
Pengaruh EC Terhadap Tanaman Hidroponik
Electro
Conductivity (EC) atau aliran listrik didalam air mengetahui cocok tidaknya
larutan nutrisi untuk tanaman, karena kualitas larutan nutrisi sangat
menentukan keberhasilan produksi, sedangkan kualitas larutan nutrisi atau pupuk
tergantung pada konsentrasinya. Nilai EC yang tinggi mengakibatkan tanaman tidak dapat menyerap unsur
hara karena konsentrasi garam yang tinggi dapat merusak akar tanaman dan
mengganggu serapan air nutrisi, selain itu pengaruh nilai EC mempengaruhi
serapan unsur hara.(Wijayani dan Widodo, 2005)
Nilai EC berpengaruh pada kecepatan penyerapan unsur
hara oleh tanaman, semakin besar nilai EC maka semakin cepat penyerapan unsur
hara oleh tanaman dan sebaliknya jika nilai EC semakin kecil maka penyerapan
unsur hara akan lambat (Sutiyoso, 2003). Untuk larutan nutrisi yang diberikan pada tanaman tomat
mempunyai nilai EC berkisar antara 2 – 2.5 m mhos/cm. Bila EC kurang dari 2 m mhos/cm harus dinaikkan dengan cara
menambah nutrisi. Bila EC lebih dari 2.5 m mhos/cm sebaiknya diturunkan secara
bertahap dengan cara penyiraman dengan air saja.
(Kusuma, Mulyono, & Sukriyanti, 2015). Sedangkan untuk proses penanaman
hidroponik tomat ceri membutuhkan nilai EC yang berbeda - beda pada setiap
fase. Ada fase pertumbuhan, fase pembungaan, dan fase pembuhanan.
2.7
Sensor pH
PH adalah nilai derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat
keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan.
Konsep pH pertama kali
diperkenalkan oleh kimiawan Denmark
Soren Peder Lauritz Sorensen pada tahun 1909. Alat ukur keasaman pada
air tersebut digunakan untuk mengukur kandungan pH atau kadar keasaman pada air mulai dari pH 0 sampai pH 14. Dimana pH normal
memiliki nilai 6.5 hingga 7.5 sementara bila nilai pH < 6.5 menunjukkan zat tersebut memiliki sifat asam
sedangkan nilai pH > 7.5
menunjukkan zat tersebut memiliki sifat basa. pH 0 menunjukkan derajat keasaman yang tinggi, dan pH 14 menunjukkan derajat kebasaan
tertinggi. (Azmi, Saniman, & Ishak, 2016)
2.8
Sensor EC
Untuk mengukur EC pada larutan nutrisi bisa
menggunakan EC meter, angka EC menunjukkan jumlah garam terlarut dalam larutan
nutrisi. Biasanya ditunjukkan pada skala mikrosiemen (µs / cm) atau
millisiemens (ms / cm). Range EC pada setiap tanaman untuk setiap fase dan juga
setiap jenis tanaman tentu saja akan berbeda - beda, bisa cek di tabel pH, EC dan PPM pada Tabel 2.3 untuk mengetahui range EC pada setiap tanaman. Sebagai Contoh EC untuk Lettuce range 0.8-1.2 ms/cm. EC tidak bisa mewakili masing - masing hara terlarut,
jadi untuk hasil yang optimal pastikan nutrisi hidroponik yang digunakan
memiliki keseimbangan komposisi antar unsur hara yang baik.
(UNCATEGORIZED, 2014)
2.9
Mikrokontroler
Mikrokontroler
adalah sebuah sistem komputer fungsional dalam sebuah chip. Di
dalamnya terkandung sebuah inti prosesor, memori (sejumlah
kecil RAM, memori program, atau keduanya), dan perlengkapan input output.
Dengan kata lain, mikrokontroler adalah suatu alat
elektronika digital yang mempunyai masukan dan keluaran serta kendali dengan
program yang bisa ditulis dan dihapus dengan cara khusus, cara kerja
mikrokontroler sebenarnya membaca dan menulis data. Sekedar contoh, bayangkan jika
saat mulai belajar membaca dan menulis,
ketika sudah bisa melakukan hal itu bisa membaca tulisan apapun baik buku, cerpen,
artikel dan sebagainya, dan bisa pula menulis hal-hal sebaliknya. Begitu pula
jika sudah mahir membaca dan menulis
data maka dapat membuat program untuk
membuat suatu sistem pengaturan otomatis menggunakan mikrokontroler sesuai
keinginan . Mikrokontroler merupakan komputer didalam chip yang digunakan untuk
mengontrol peralatan elektronik, yang menekankan efisiensi dan efektifitas
biaya. Secara harfiahnya bisa disebut “pengendali kecil” dimana sebuah sistem
elektronik yang sebelumnya banyak memerlukan komponen - komponen pendukung
seperti IC TTL dan CMOS dapat direduksi / diperkecil dan akhirnya terpusat
serta dikendalikan oleh mikrokontroler ini (Syahwil, 2013).
Mikrokonktroler digunakan dalam produk dan alat yang dikendalikan secara
automatis, seperti sistem kontrol mesin, remote
controls, mesin kantor, peralatan
rumah tangga, alat berat, dan mainan. Dengan mengurangi ukuran, biaya,
dan konsumsi tenaga dibandingkan dengan mendesain menggunakan mikroprosesor
memori, dan alat input output yang
terpisah, kehadiran mikrokontroler membuat kontrol elektrik untuk berbagai
proses menjadi lebih ekonomis. Dengan penggunaan mikrokontroler ini maka :
1.
Sistem elektronik akan menjadi
lebih ringkas.
2.
Rancang bangun sistem elektronik
akan lebih cepat karena sebagian besar dari sistem adalah perangkat lunak yang
mudah dimodifikasi.
3.
Pencarian gangguan lebih mudah
ditelusuri karena sistemnya yang kompak.
Agar sebuah mikrokontroler dapat berfungsi, maka mikrokontroler tersebut
memerlukan komponen eksternal yang kemudian disebut dengan sistem minimum.
Untuk membuat sistem minimal paling tidak dibutuhkan sistem clock dan reset, walaupun pada beberapa mikrokontroler sudah menyediakan
sistem clock internal, sehingga tanpa
rangkaian eksternal pun mikrokontroler sudah beroperasi.
Yang dimaksud dengan sistem
minimal adalah sebuah rangkaian mikrokontroler yang sudah dapat digunakan untuk
menjalankan sebuah aplikasi. Sebuah IC mikrokontroler tidak akan berarti bila
hanya berdiri sendiri. Pada dasarnya sebuah sistem minimal mikrokontroler AVR
memiliki prinsip yang sama. osilator kristal, koneksi USB, jack listrik tombol reset. Pin - pin ini berisi
semua yang diperlukan untuk mendukung mikrokontroler.
boleh minta tolong dikirim mas
BalasHapusarmanlontong@gmail.com
Boleh minta dikirim ke aryharyo72@gmail.com
BalasHapus